Fenomena Balas Dendam Makan Ketika Berbuka, Apakah Termasuk Isrāf?
“Balas dendam makan” adalah istilah populer yang menggambarkan perilaku makan berlebihan saat berbuka puasa, seolah-olah ingin membalas penderitaan menahan lapar dan dahaga sepanjang hari. Fenomena ini ditandai dengan menyantap berbagai jenis makanan dan minuman dalam jumlah banyak, tanpa mempertimbangkan kebutuhan tubuh atau dampak kesehatannya. Di balik niat memuaskan nafsu, muncul pertanyaan: bagaimana Islam memandang perilaku ini? Apakah termasuk pemborosan yang dilarang?
Definisi isrāf
Isrāf secara bahasa berarti melampaui batas atau berlebih-lebihan. Dalam terminologi syariat, isrāf adalah membelanjakan atau menggunakan sesuatu pada perkara yang semestinya (boleh), namun melebihi batas yang sepatutnya. Berbeda dengan tabdzīr, yaitu membelanjakan atau menggunakan sesuatu pada perkara yang tidak semestinya (haram) (At Ta’rīfāt, hal. 24). Seseorang bisa saja membelanjakan hartanya untuk makanan halal, namun jika berlebihan hingga melampaui batas kewajaran, ia telah jatuh dalam perangkap isrāf.
Allah Ta’āla dengan tegas melarang perilaku isrāf dalam firman-Nya,
يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ
“Wahai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid. Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)
Ayat ini menjadi landasan utama larangan isrāf dalam makan dan minum. Para ulama salaf memberikan perhatian khusus pada ayat ini. Ibnu Abbas radhiyallāhu ‘anhu menafsirkan, “Makanlah apa yang engkau kehendaki, dan pakailah apa yang engkau kehendaki, selama dua hal tidak mengenaimu: berlebih-lebihan (isrāf) atau kesombongan (makhilah).” (Tafsīr Ibnu Kaṡīr, 4: 560)
Az-Zuhaili rahimahullāh memaknai isrāf sebagai tindakan melampaui batas alami manusia, seperti kenyang berlebihan sebab memenuhi kebutuhan lapar dan haus di luar batas cukup. (Tafsīr al-Munīr, 8: 184)
Hadis tentang larangan berlebihan
Rasulullah ﷺ mengajarkan keseimbangan dalam makan melalui sabdanya yang sangat terkenal,
مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ
“Tidak ada wadah yang dipenuhi anak Adam yang lebih buruk dari perutnya. Cukuplah anak Adam mengkonsumsi beberapa suap makanan untuk menguatkan tulang rusuknya. Kalau memang tidak ada jalan lain (memakan lebih banyak), maka berikan sepertiga untuk (tempat) makanan, sepertiga untuk (tempat) minuman, dan sepertiga untuk (tempat) nafasnya.” (HR. Tirmidzi no. 2380, Ibnu Majah no. 3349)
Hadis ini memberikan panduan proporsional yang sangat jelas: sepertiga perut untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk udara. Balas dendam makan jelas bertentangan dengan petunjuk mulia ini.
Pandangan ulama tentang isrāf dalam makan
Para ulama salaf sangat memahami bahaya isrāf. Sufyan Ats-Tsauri rahimahullāh berkata, “Kalau anda ingin badan sehat dan tidur sedikit, maka sedikitkan makanan anda.” (Al-Ju’ li Ibni Abi Dunya, no.97)
Perkataan ini menunjukkan bahwa ulama salaf telah memahami korelasi antara pola makan dan kualitas ibadah.
Ahmad bin Hanbal rahimahullah ketika ditanya, “Apakah seseorang akan memiliki hati yang lembut (mudah tersentuh) sementara dia dalam kondisi kenyang?” Beliau menjawab, “Saya tidak melihat itu.” (Manaqib Al-Imam Ahmad, hal. 412)
Artinya, kekenyangan justru dapat mengeraskan hati dan melalaikan seseorang dari mengingat Allah.
Syekh Abdullah Sirajuddin Al-Husaini dalam kitab Al-Shiyam mengingatkan, “Selayaknya bagi orang yang berpuasa untuk tidak makan berlebihan dan mencampur (mengonsumsi) berbagai makanan ketika berbuka dan ketika makan sahur. Sebaliknya, dia selayaknya sedang-sedang saja dalam segala urusannya.” (Al-Shiyam, hal. 25-26)
Dampak isrāf dan hikmah larangan
Balas dendam makan saat berbuka membawa dampak buruk, baik secara medis maupun spiritual:
Pertama, mengganggu kesehatan. Makan berlebihan dapat menyebabkan mual, muntah, gangguan pencernaan, kembung, begah, hingga nyeri perut. Tubuh yang seharusnya beristirahat setelah seharian berpuasa, justru dipaksa bekerja ekstra.
Kedua, melemahkan semangat ibadah. Kekenyangan menyebabkan rasa kantuk dan malas, sehingga salat tarawih dan ibadah malam menjadi terbengkalai. Padahal, Ramadan adalah bulan memperbanyak amal.
Ketiga, mengurangi esensi puasa. Hakikat puasa adalah menahan hawa nafsu, bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Balas dendam makan justru menunjukkan bahwa kita tidak bisa mengendalikan nafsu.
Kesimpulan
Fenomena balas dendam makan saat berbuka adalah bentuk isrāf yang makruh dalam Islam, bahkan bisa berubah menjadi haram. Al-Qur’an dan hadis dengan tegas melarang berlebih-lebihan dalam makan dan minum. Para ulama salaf dan kontemporer sepakat bahwa isrāf membawa dampak buruk bagi kesehatan, ibadah, dan pengelolaan harta.
Puasa mengajarkan kita hidup sederhana dan mengendalikan hawa nafsu. Maka, mari jadikan momen berbuka sebagai waktu untuk bersyukur dengan makan secukupnya, bukan ajang balas dendam. Rasulullah ﷺ telah memberikan panduan sempurna: cukup beberapa suap saja untuk menegakkan tulang, atau jika harus lebih, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk udara.
Semoga Allah menjauhkan kita dari perilaku isrāf dan menjadikan puasa kita sebagai sarana meraih ketakwaan. Wallahu Ta’ala a’lam.
Semoga bermanfaat.
Baca juga:
***
Penulis: Junaidi Abu Isa
Artikel Muslim.or.id
Artikel asli: https://muslim.or.id/112510-fenomena-balas-dendam-makan-ketika-berbuka.html